konten

Sabtu, 09 November 2013



PENGEMBANGAN KURIKULUM

Beberapa pengertian kurikulum berdasarkan para ahli :
1.      Menurut Hilda Taba (1962), Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah. (Hilda Taba ; 1962 dalam bukunya “Curriculum Development Theory and Practice).
2.      Menurut George A. Beaucham (1976), kurikulum sebagai bidang studi membentuk suatu teori yaitu teori kurikulum. Selain sebagai bidang studi kurikulum juga sebagai rencana pengajaran dan sebagai suatu sistem (sistem kurikulum) yang merupakan bagian dari sistem persekolahan.
3.      J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam buku Curriculum Planning for Better Teaching on Learning (1956), menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut” The curriculum is the sum totals of schools efforts to influence learning, whether in the class room, on the play ground, or out of school. Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruang kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apa yang disebut kegiatan ekstra kulikuler.
4.      John Dewey (1902) sejak lama telah menggunakan istilah kurikulum dan hubungannya dengan anak didik. Dewey menegaskan bahwa kurikulum dan anak didik merupakan dua hal yang berbeda tetapi kedua-duanya adalah proses tunggal dalam bidang pendidikan. Kurikulum merupakan suatu rekonstruksi berkelanjutan yang memaparkan pengalaman belajar anak didik melalui suatu susunan pengetahuan yang terorganisir dengan baik yang biasanya disebut kurikulum.
5.      Franklin Bobbit (1918) menyatakan bahwa kurikulum adalah susunan pengalaman belajar terarah yang digunakan oleh sekolah untuk membentangkan kemampuan individual anak didik.

Jumat, 21 Juni 2013

TUJUAN DISELENGGARAKANNYA PAUD


http://3.bp.blogspot.com/-XvMSCucT4VM/TxuWTD7CJvI/AAAAAAAAAQw/UrG-QvfIQUQ/s1600/tujuan.jpg

Ada dua tujuan mengapa perlu diselenggarakan pendidikan anak usia dini, yaitu: 
  • Tujuan utama : untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
  • Tujuan penyerta : untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.Berikut beberapa ruang lingkup Pendidikan Anak Usia Dini :
    * Infant (0-1 tahun) 
    * Toddler (2-3 tahun)
    * Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
    * Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)
          Saat ini, sudah ada beberapa satuan pendidikan penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), diantaranya adalah 
            1. PAUD Jalur Formal (Pasal 62)
    • Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat.
    • TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun.
    • TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat.
      2. PAUD Jalur Nonformal (Pasal 107) 
    • Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang sejenis.
    • Kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang sejenis menyelenggarakan pendidikan dalam konteks:
      a. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran sosial dan kepribadian;
      c. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran estetika;
      d. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;
      e. bermain sambil belajar dalam rangka merangsang minat kepada ilmu pengetahuan dan    teknologi.
    • Peserta didik kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal yang sejenis dapat dievaluasi perkembangannya tanpa melalui proses yang bersifat menguji kompetensi.

Rabu, 12 Juni 2013

Mengenal PAUD Anak Usia Dni

Mengenal Pendidikan Anak Usia Dini.  Bagi beberapa orang atau keluarga mungkin masih asing dengan istilah pendidikan anak usia dini atau yang biasa disebut dengan PAUD. 

Cenderung para keluarga akan familiar dengan Taman Kanak-kanak atau TK bila dibandingkan dengan Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Sebelum anak masuk SD, orang tua akan memilih untuk memasukkan anaknya ke Taman Kanak-kanak.  Tujuannya adalah agar anak bisa membaca dan menulis sebelum anak masuk SD.
Lalu apa pengertian dari PAUD itu sendiri?  Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun (0-6 tahun) yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

     Pendidikan anak usia dini sangat penting untuk diberikan kepada anak.  Mengingat anak memiliki usia emas atau golden age.  Usia emas anak ini harus diberikan stimulasi yang baik agar anak bisa berkembang dan tumbuh dengan segala potensi yang dimilikinya.  Potensi anak kalau tidak dirangsang maka potensi tersebut tidak akan muncul dengan maksimal. Setidaknya ada dua tujuan dengan diadakannya Pendidikan Anak usia dini yaitu :
  1. Tujuan PAUD yaitu untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. 
  2. Tujuan penyerta dari PAUD yaitu untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah sebelum anak masuk bangku sekolah dasar.
Dalam pendidikan anak usia dini atau PAUD banyak materi yang diajarkan kepada anak. Pembelajarannya pun kebanyakkan memakai sistim bermain sambil belajar. Sehingga anak tidak akan sadar bahwa dirinya sedang belajar. Pendidikan anak usia dini lebih menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki dua jalur pendidikan yaitu PAUD formal dan PAUD nonformal. Dalam pembagiannya yaitu:

A.  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) formal
1)    Taman Kanak-kanak (TK)
2)   Raudhatul Athfal (RA)

B.  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) nonformal
         1)    Taman Penitipan Anak (TPA)
        2)   Kelompok Bermain (KB) atau Play Group
        3)   Satuan PAUD sejenis (SPS)
       
Pembagian SPS yaitu :
  • POS PAUD: PAUD yang terintegrasi dengan kegiatan Posyandu
  • SPS TPQ : PAUD yang terintegrasi dengan pembelajaran Al- Qur’an
  • SPS Minggu: PAUD yang terintegrasi dengan dengan kegiatan     kerohanian umat Kristen
  • TAAM : PAUD yang terintegrasi dengan pengajaran agama islam untuk  anak usia dini (Taman Asuh Anak Muslim)

     Sedangkan waktu pembelajaran dalam PAUD tidak memakan waktu yang lama. Kurang lebih 2,5 jam hingga 3 jam perhari.  Banyak aneka pembelajaran yang diajarkan kepada anak dalam rentang waktu yang pendek ini.  Keberhasilan dari pendidikan anak usia anak dini dibutuhkan kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan pihak orang tua selaku wali murid.  Setidaknya ada tiga hal yang menjadi tanggung jawab orang tua dalam menjaga anaknya agar lebih siap untuk menerima materi pendidikan. Ketiga hal tersebut adalah:
  1. Orang tua hendaknya memberikan asupan gizi yang cukup kepada anaknya.  Mengingat gizi anak merupakan energi yang diperlukan untuk menyerap informasi atau rangsangan yang diberikan kepada anak. 
  2. Menjaga kesehatan anak dengan baik.  kesehatan anak harus sebisa mungkin dijaga dengan baik agar anak tidak mudah terkena penyakit yang serius sehingga anak bisa mendapatkan pendidikan PAUD yang cukup dan anak tidak banyak tertinggal pembelajaran (ingat Golden Age)
  3. Menjaga rangsangan psikososial anak.  Orang tua harus mengkondisikan agar anaknya mendapatkan rasa aman, rasa kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orang tuanya. Orang tua hendaknya tidak memberikan tindak kekerasan dan hukuman yang bisa membuat anak menjadi trauma dan anak menjadi takut.
     Pada Zaman kondisi sekarang PAUD jenis nonformal banyak menjadi pilihan bagi para orang tua yang memiliki dana mepet.  Mengingat pengeluaran yang dikeluarkan lebih kecil bila dibandingkan dengan masuk TK ataupun RA.  Sedangkan materi pembelajaran yang diberikan tidak jauh berbeda.

Lantas pentingkah anak dimasukkan ke dalam PAUD?  Menurut Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year mengatakan  "Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban (Kompas/2011).  Itulah sekilas penjelasan mengenai PAUD semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk memasukkan anaknya ke dalam pendidikan PAUD.

Senin, 10 Juni 2013

PERAWATAN KESEHATAN ANAK, PENYAKIT & CARA PENGOBATANNYA, IMUNISASI, DAN MELATIH KEBERSIHAN & KESEHATAN ANAK

       
        Deteksi dini tumbuh kembang bayi adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang bayi. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang bayi, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan , tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam membuat intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu atau keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi.

      A.     Perawatan Kesehatan Anak

1.      Kesehatan kulit
Berbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat, eksim popok, dan eksim susu sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga kesehatan kulit. Caanya dengan rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut, serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman.
  Perawatan kulit bayi dan balita bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari. Berikut adalah 7 tips yang        sangat dianjurkan dalam perawatan kulit bayi:
 a.      Mandikan bayi beberapa hari sekali, tetapi bersihkan kulitnya setiap hari.

       Dalam empat bulan pertama, kita sebaiknya tidak memandikan bayi setiap hari. Para pakar perawatan bayi menganjurkan untuk memandikan bayi seminggu sekali, terutama pada satu-dua bulan pertama kehidupan. Sabun khusus bayi memang lebih ramah terhadap kulit bayi, tetapi penggunaannya tidak boleh terlalu sering. Untuk menjaga agar kulit bayi tidak mengering karena sabun, ke dalam air mandinya kita dapat menuangkan beberapa tetes minyak zaitun atau baby oil.
Kita harus membersihkan kulit bayi setiap hari dengan menyeka, terutama di daerah popok dan lipatan-lipatan kulit. Untuk daerah popok, kita cukup membersihkan dengan kain lembab tanpa sabun. Karena sering dibersihkan, daerah ini rentan terhadap iritasi kulit. Pemberian minyak zaitun atau baby oil dapat mencegah iritasi. Minyak tersebut membentuk lapisan tak terlihat pada kulit, yang mempertahankan kelembaban kulit sekaligus melindungi dari iritasi. Untuk perawatan lipatan kulit di kaki, tangan dan leher, ambillah sejumput kapas yang dibasahi air dan teteskan sedikit minyak untuk menyerap dan membuang kotoran. Daerah lipatan leher sangat rentan kotor karena residu air susu.
Air yang digunakan untuk mandi atau menyeka sebaiknya memiliki kehangatan sedang, sekitar 37°C. Siapkan handuk hangat untuk membungkus dan menjadi alas sebelum dan sesudah bayi dibersihkan.
b.      Lindungi bayi dari masalah kulit
                                                                                                                                                                                   Bayi dapat memiliki beberapa masalah atau kondisi kulit berikut :
     1)      Tanda lahir.
Pada wajah dan leher bayi mungkin terbentuk tanda lahir berwarna kemerahan. Itu adalah kumpulan pembuluh darah– bukan ruam–karena tidak menonjol atau menyebabkan gatal. Penyebabnya adalah perubahan hormon setelah lahir. Tanda lahir ini biasanya akan memudar sendiri dalam beberapa minggu. kita  tidak perlu mengobatinya.
     2)      Dermatitis.
Kadang-kadang, bayi akan mengembangkan infeksi jamur di lipatan kulit. Jamur berjenis kandida sering menyebabkan ruam yang disebut dermatitis popok karena menyukai area yang hangat dan lembab. Lipatan leher bayi juga dapat menjadi lingkungan yang baik untuk kandida. Kita dapat mencegah dan mengatasi ruam dengan menjaga kulit tetap kering, misalnya dengan selalu memastikan popok dalam keadaan kering dan membedaki kulit bayi secukupnya. Bila ruam tidak membaik atau cenderung menyebar dalam beberapa hari, periksakan bayi kita ke dokter. Dokter mungkin akan meresepkan krim sederhana untuk membunuh jamur tersebut.

     3)      Biang keringat.
Dalam cuaca panas, kulit bayi dapat teriritasi oleh panas. Biang keringat akan muncul dalam bentuk benjolan-benjolan merah kecil di tempat yang sering basah oleh keringat, misalnya di area popok, ketiak, punggung dan leher. Menempatkan bayi di ruangan sejuk dan nyaman adalah cara terbaik untuk mencegah dan mengobati biang keringat. Pakaian longgar dan menjaga daerah yang terkena tetap kering juga dapat membantu.

     4)      Masalah lain.
Pada kondisi kulit lainnya seperti eksim, jerawat, dermatitis seboroik, alergi, dll, kita harus selalu berkonsultasi dengan dokter untuk perawatannya.

c.       Lindungi bayi dari sinar matahari
      Bayi pada tahun pertama kehidupannya tidak boleh terkena radiasi UV langsung. Pakaian rapat, topi dan kacamata hitam adalah sarana perlindungan terbaik terhadap UVA dan UVB matahari. Selain itu, kita dapat memberikan krim perlindungan matahari (“tabir surya”) secukupnya pada kulit yang terbuka.
d.      Gunakan kain berbahan katun
       Usahakan untuk selalu mengenakan pakaian dan popok berbahan katun pada bayi. Katun bersifat ramah kulit, memiliki pori-pori, dan menyerap kelembaban. Hindarilah bahan sintetis.
e.       Lindungi bayi dari cuaca dingin
      Kulit bayi tidak cukup melindungi diri mereka dari cuaca dingin. Selimutilah bayi dengan pakaian dan selimut hangat bila dibawa bepergian yang membuatnya terpapar angin.
f.        Gunakan minyak / balsem untuk menghangatkan
    Dalam cuaca buruk, terutama di saat hawa dingin dan angin bertiup, disarankan untuk mengoleskan minyak kayu putih atau balsem penghangat khusus untuk bayi. Minyak ini beraroma wangi dan melindungi kulit dari cuaca buruk dan dehidrasi. Namun, berhati-hatilah ketika mengoleskan minyak/balsem tersebut jika bayi anda memiliki ruam kulit, agar tidak memperparah kondisinya.
g.      Lakukan pemijatan
     Untuk kesehatan umum dan perawatan kulit bayi, kita dapat melakukan pemijatan. Untuk keperluan ini, kita dapat menggunakan minyak zaitun atau minyak esensial lain yang tidak membahayakan bayi dan dapat memicu asma.

1.      Menghindari bayi kegemukan
      Bayi terlalu gemuk tentu saja tidak sehat tetapi bayi yang kurus juga bukan bayi sehat. Jumlah yang cukup dari lemak tubuh sangat penting untuk bayi sebagai simpanan tenaga. Simpanan tenaga ini dapat menolong mereka jika mereka harus melalui periode-periode tidak sehat (sakit) selain itu untuk menolong mereka jika mereka tidak mampu untuk makan banyak.
Jika anda merasa bayi anda kegemuka, konsultasikan kepada dokter anak atau ahli gizi. Mereka akan memberikan saran/nasihat yang perlu untuk mengurangi berat badan anak anda. Tetapi ingat, jangan pernah mencoba untuk melakukan ‘slimming diet (diet yang berlebihan seperti untuk orang dewasa) tanpa pengawasan dokter/ahli. Cara terbaik untuk menghindari overwight yaitu jangan mengenalkan makanan padat sebelum bayi anda berusia 3 bulan, hindari terlalu banyak gula dan lemak dengan memberikan makanan orang dewasa, jangan paksa anak anda untuk menghabiskan makanannya jika terlihat ia sudah kenyang.
Beberapa saran agar bayi anda dapat terhindar dari zat-zat yang dapat mempengaruhi kesehatannya, terutama perlu diketahui sat bayi mulai mengkomsumsi makanan padat, yaitu : 
  • Hindari gula dan garam. Seperti kita ketahui memberikan gula sejak anak anda masih kecil tidak baik, karena dapat menjadikannya anak obesitas (kegemukan) atau merusak giginya, selain itu jika anak kegemukan dapat menyebabkannya menderita penyakit diabetes. 
  • Bagi anak bayi, terutama anak dibawa usia 5 tahun lemak amat diperlukan untuk pertumbuhan badannya, karena kekurangan lemak berarti kekurangan energi dan vitamin-vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Karena itu jika anak anda masih berusia dibawah 5 tahun jangan pernah sekali-sekali diberikan susu dengan kadar rendah lemak.Mengkomsumsi makanan yang mengandung karbohodrat yang berasal dari tepung-tepungan, seperti roti, pasta, kentang, nasi, dll.
  • Mengkomsumsi makanan yang banyak serat. Makanan berserat dapat dijumpai pada sereal, sayur-sayuran dan buah-buahan.
2.      Tidur
        Kebutuhan tidur bayi berbeda dengan kebutuhan tidur anak-anak bahkan orang dewasa. Bayi sehat  memiliki kebutuhan tidur yang cukup dibandingkan bayi yang mengalami gangguan pada pertumbuhannya.
Biasanya bayi yang baru lahir memiliki jam tidur antara 15 sampai 20 jam perhari sedangkan bayi berusia 2 sampai 12 bulan memiliki jam tidur yang baik sekitar 9 sampai 12 jam. Kebutuhan tidur yang baik tersebut harus dipenuhi pada bayi anda karena dari pola tidur tersebut akan mempengaruhi nutrisi pada bayi anda. Memang dalam prakteknya memiliki bayi sehat itu sulit namun anda bisa memulainya dengan memperhatikan kebutuhan tidur bayi anda.
Bayi sehat harus memiliki kebutuhan tidur seperti diatas sehingga secara tidak langsung membantu dalam proses pertumbuhan tubuhnya. Jika kebutuhan tidur bayi anda kurang maka akan timbul berbagai masalah pada perkembangannya. Kadang bayi merasa tidak nyenyak ketika mereka tidur karena mereka merasa lapar atau haus, gangguan psikis pada bayi dan beberapa gangguan lainnya.  Selain itu bayi sehat juga tidak mudah sakit dan tentu saja semuai ini berasal dari nutrisi dan kebiasaan tidur pada bayi.
Jika anak tidur telungkup akan menimbulkan tekanan pada perutnya, sehingga udara yang ada didalam perutnyalebih mudah keluar, sehingga tidak kembung. Kerugian posisi terlentang bentuk kepala gepeng, selain itu jika mereka muntah maka muntahnya akan mengalir kesaluran nafas dan kesaluran yang menghubungkan ketenggorokan dan telinga. Bayi akan tercekik, menderita infeksi telinga (jika masuk ke telinga tengah).
Selama ini banyak ibu yang  menyepelekan kubutuhan tidur bayi mereka karena berpikir bahwa perkembangan bayi ada pada nutrisi yang mereka makan. Namun sebenarnya kubutuhan tidur adalah hal penting untuk mewujudkan bayi sehat. Jika kebutuhan tidur bayi anda terpenuhi sesuai dengan standart diatas maka pertumbuhan bayi akan meningkat dengan cepat dan bayi tidak mudah sakit.

B.     Penyakit Anak dan Cara pengobatannya
  1.  Gangguan kesehatan kulit
      Penyakit kulit bisa menyerang siapa saja, baik laki-laki, perempuan, orang dewasa, kanak-kanak bahkan bayi. Karena anatomi kulit yang sangat berbeda dengan orang dewasa, bayi merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap gangguan kulit. 
Menurut Bernard Cohen, M.D, direktur ilmu kesehatan kulit anak dari Johns Hopkins Children's Center, kulit merupakan organ bertindak sebagai benteng pertahanan terhadap beragam elemen yang mengancam tubuh mulai dari sinar matahari hinga bakteri.
Pada tahun pertama, seorang bayi akan sangat rentan terhadap gangguan  karena lapisan kulit mereka belum sempurna. Pasalnya dibutuhkan waktu hingga satu tahun bagi epidermis kulit untuk berkembang dengan cepat dan berfungsi secara efektif. Pada bayi, struktur kulitnya lebih tipis, ikatan antar selnya lebih lemah dan lebih halus. Kulit bayi juga memiliki pigmen yang lebih sedikit, dan tidak mampu mengatur temperatur seperti halnya anak-anak dengan usia lebih tua atau orang dewasa. Munculnya kemerahan dan peradangan pada kulit merupakan salah satu gejala dari reaksi alergi pada tubuh bayi. Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit kulit yang umum dijumpai pada bayi :

a.      Intertrigo

      Intertrigo mengacu pada suatu peradangan pada lipatan tubuh. Hal ini biasanya terletak di paha bagian dalam, ketiak, dan bagian bawah payudara atau perut. Lipatan tersebut membuat kulit tampak merah, gatal dan menyebabkan rasa sakit bila terjadi gesekan. Umumnya terjadi pada bayi yang gemuk.
Penyebab : Bisa terjadi karena lembab berlebihan pada lipatan bayi, yang tidak pernah mendapatkan udara.
Cara pengobatannya : Cuci bagian dalam lipatan kulit bayi Anda dengan air dan oleskan krim penghalang zinc-oxide atau petroleum jelly untuk melindungi kulit bayi.

b.      Biang keringat

     Biang keringat atau lebih dikenal dengan sebutan miliaria, biasanya terjadi pada leher, wajah, punggung, atau bokong bayi. Secara klinis miliari terlihat dengan adanya kulit kemerahan disertai rasa gatal sehingga bayi rewel, dengan gelembung-gelembung kecil berair.
Penyebab : Udara panas, cuaca lembab, pakaian yang ketat dan aktivitas bayi yang tinggi dapat memicu ruam biang keringat.
Cara pengobatannya : Sedapat mungkin hindari bayi anda dari suhu yang terlalu panas dan berikan pakaian yang longgar. Dengan begitu, ruam akan terlihat lebih baik dalam waktu sekitar 30 menit.

c.       Seborrhea 

Seborrhea adalah suatu peradangan pada kulit bagian atas, yang menyebabkan timbulnya sisik pada kulit kepala, wajah, kadang pada bagian tubuh lainnya seperti belakang telinga, leher, pipi, dan dada. Penyakit ini yang paling sering terjadi pada bayi di bawah usia 6 bulan. Pada kulit kepala, seborrhea tampak seperti ketombe, sisik kuning atau berkerak.
Penyebab : belum diketahui.
Cara pengobatannya : Lakukan pengobatan tradisional dengan menggosokan minyak zaitun atau baby oil pada kulit kepala bayi anda, kemudian sikat dengan lembut.

d.      Eksim 

       Eksim dapat muncul di manapun pada tubuh bayi mulai dari usia 3 sampai 4 bulan, meskipun sangat jarang ditemukan di daerah bekas pemakaian popok. Eksim atau sering disebut eksema, atau dermatitis adalah peradangan hebat yang menyebabkan pembentukan lepuh atau gelembung kecil (vesikel) pada kulit hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan. Kondisi yang lebih parah, penyakit ini juga dapat menyebabkan kulit berubah menjadi merah, mengeluarkan nanah, dan kerak.
Penyebab : Apa pun bisa menjadi pemicu bayi rentan terhadap eksim (dengan predisposisi genetik atau riwayat alergi dalam keluarga). Setiap bayi mempunyai pencetus eksim yang berbeda-beda. Ada orang yang setelah memegang sabun atau deterjen akan merasakan gatal yang luar biasa, ada pula yang disebabkan oleh bahan atau alat rumah tangga yang lain.
Cara pengobatannya: Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal, lotion dan krim pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit menjadi lebih lembab. Untuk kasus yang lebih parah, konsultasikan dengan dokter anda soal penggunaan salep steroid, untuk mengurangi peradangan.

e.       Dermatitis kontak 

        Dermatitis kontak adalah inflamasi pada kulit yang terjadi karena kulit telah terpapar oleh bahan yang mengiritasi atau menyebabkan reaksi alergi. Dermatitis kontak akan menyebabkan ruam yang besar, gatal dan rasa terbakar.
Penyebab : Jika ruam terjadi di seluruh tubuh bayi anda, maka sabun atau deterjen mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Jika dada dan lengan yang terkena, pelakunya bisa dari baju yang kotor.
Cara pengobatannya:  Pada kasus ringan dan sedang, penghindaran bahan iritan (penyebab iritasi) dan penggunaan krim yang mengandung hidrokortison (kortikosteroid) dapat membantu mengurangi gatal dan kemerahan di kulit. Pada kasus yang berat, obat yang diminum jenis kortikosteroid dan antiradang diperlukan untuk mengurangi peradangan dan gatal. Sebaiknya lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter Anda sebelum menggunakan krim hidrokortison atau antihistamin.

2.     Batuk, Pilek dan Influenza
    Batuk dan pilek adalah penyakit yang umum dialami oleh bayi dan anak-anak. Umumnya anak bisa mengalami 6 hingga 12 kali dalam satu tahun, atau dengan kata lain, hampir tiap 1 – 2 bulan sekali bayi dan anak bisa terserang batuk pilek.
Pencetus batuk pilek pada anak memang sulit ditentukan karena banyak faktor penyebab. Beberapa di antaranya adalah :
  1. Tertular anggota keluarga dekat.
  2. Tertular teman di day care, sekolah, tempat bermain. Public
  3. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari dapat menimbulkan reaksi alergi yang membuat hidung anak tersumbat, menjadi sulit bernafas sehingga anak kemudian bernafas lewat mulut.
  4. Penggunaan kipas angin di kamar yang lalu meniupkan debu ke seluruh penjuru kamar.
  5. Lingkungan yang kurang sehat, polusi tinggi, ada perokok aktif dalam rumah, dll.
  6. Konsumsi makanan yang kurang sehat, misalnya jajan sembarangan, makanan ringan yang membuat tenggorokan gatal, dll.
Karena frekuensinya cukup sering, orang tua sebaiknya paham betul bagaimana menangani anak batuk pilek dengan benar, termasuk penggunaan obat-obatan. Jika tidak, dapat dibayangkan, bayi dan anak akan minum obat hampir tiap bulan.
Lakukan hal berikut untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak yang sedang batuk pilek : 
  1. ASI hingga usia 2 tahun. Antibodi yang terdapat dalam ASI mampu melawan infeksi virus yang menyebabkan batuk pilek. 
  2. Makanan bergizi seimbang dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin seperti apel, jeruk, kiwi, buah naga, dll. 
  3. Istirahat yang cukup. Bantu anak untuk lebih banyak beristirahat selama sakit. Kurangi porsi bermain dan pilih permainan yang tidak terlalu menguras energi. Jika perlu, anak tidak usah bersekolah dulu. 
  4. Jemur pagi. Sinar matahari pagi ternyata dapat meningkatkan kekebalan tubuh si kecil karena selama terpapar sinar matahari pagi, tubuh mengeluarkan lebih banyak sel darah putih.
Sayangnya, seringkali gejala yang dialami anak yang sedang batuk pilek terasa begitu mengganggu. Hidung tersumbat dan batuk yang terus menerus membuat anak malas menyusu, malas makan dan tidak dapat tidur dengan baik. Padahal seperti yang telah diutarakan di atas, ketiga hal tersebut – ASI, makan dan istirahat – sangat diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
        Dalam kondisi seperti ini, usaha untuk meringankan gejala, baik terapi non farmakologis / non obat ataupun terapi farmakologis / obat diperlukan untuk membuat anak lebih nyaman.

Terapi non farmakologis / non obat

       Adalah terapi yang dilakukan untuk meringankan gejala batuk pilek pada anak yang tidak menggunakan intervensi obat-obat kimia. Terapi non farmakologis harus diusahakan semaksimal mungkin terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menggunakan terapi farmakologis / terapi obat.
Banyak hal yang ternyata dapat dilakukan orang tua di rumah (home treatment) untuk membantu mengurangi gejala batuk pilek yang diderita anak. Diantaranya :
1.      Jemur pagi
2.      Banyak minum
3.      Mandikan anak dengan air hangat
4.      Terapi uap

Terapi Farmakologis / obat

       Terapi farmakologis / obat dapat digunakan jika terapi non farmakologis belum membuahkan hasil yang maksimal. Ada terapi obat yang dapat dibeli sendiri di apotek untuk swamedikasi, ada terapi obat yang harus berdasarkan resep dokter atau atas diskusi dengan Apoteker.
Adapun contoh terapi Farmakologis / obat yaitu :

1.      Obat Over The Counter (OTC)

Penggunaan obat batuk pilek yang banyak dijual bebas sebaiknya tidak sembarangan. Food and Drug Administration (FDA) sangat menganjurkan agar orang tua  menghindari penggunaan obat batuk pilek yang banyak dijual bebas di pasaran bagi anak-anak di bawah 2 tahun karena potensi efek samping yang dapat membahayakan bayi dan anak < 2 tahun. Di Indonesia sendiri, anjuran FDA tersebut diimplementasikan dengan penetapan dosis yang dimulai dari anak usia 2 tahun. Demi keamanan, orang tua sebaiknya tidak melanggar aturan dosis yang tertera di kemasan obat dengan mencoba-coba memberikan obat OTC ini pada anak usia kurang dari 2 tahun dan memodifikasi sendiri dosis (dosis dikurangi sendiri) tanpa dasar yang tepat.

2.      Antibiotik

Penggunaan antibiotik pada batuk pilek yang disebabkan oleh infeksi virus sangat tidak memiliki dasar. Selain antibiotik tidak akan memberikan efek terapi, efek samping dan resiko resistensi harus menjadi pertimbangan dalam penggunaan antibiotik pada batuk pilek karena infeksi virus.

Karenanya, orang tua sebaiknya mengutamakan dan mengoptimalkan terapi non farmakologis sedemikian rupa dalam menangani bayi dan anak dengan batuk pilek. Jika batuk pilek masih terus berlangsung lebih dari 7 hari meskipun berbagai terapi non farmakologis telah diupayakan, atau jika gejala tampak berat dan sangat mengganggu, sebaiknya segera bawa anak ke Dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

3.       Cacar Air
Penyebab : Virus varisela-Zoster. Melalui udara virus ini memasuki tubuh anak, menjari kelenjar getah bening didaerah dagu, leher, atau ketiak kemudian masuk kedalam peredaran darah.
Gejala awal :
a)      Demam
b)      Lemas
c)      Sakit kepala
d)      Mata merah berair
e)      Tampak bercak-bercak kemerahan disertai rasa gatal
f)    Timbul bintil-bintil dan gelembung-gelembung benair pada perut dan punggung kemudian      menyebar ke wajah, lengan, telapak kaki dan tangan.
Cara mengatasi :
a)      Periksakan ke dokter
b)      Mandikan anak dengan air yang telah dicampur dengan obat antiseptic
c)      Beri anak makanan bergizi, terutama makanan berkalori tinggi dan berprotein.
Menghindari penularan : hindari kontak langsung dengan penderita

4.      Campak
Penyebab : Virus morbili, biasanya timbul pada masa pancaroba
Gejala awal :
a)      Panas tinggi
b)      Batuk
c)      Pilek
d)      Sariawan
e)      Mata merah dan berair
f)       Bercak-bercak merah dibelakang telinga, yang akan menjalar ke leher, dada, perut dan punggung
Cara mengatasi :
a)      Banyak minum
b)      Jaga kebersihan tubuh
c)      Menghindari penularan dengan cara hindari kontak langsung dengan penderita

5.       Demam
Penyebab :
1.      Infeksi pada saluran nafas atas dan gangguannya berupa influenza atau radang tenggorokan
2.      Alergi
3.      Keracunan obat
4.      Penyakit darah (Leukimia, kanker darah)
5.      Mengantuk
6.      Tumbuh gigi
Cara mengatasi :
1.      Beri obat penurun panas sesuai dengan petunjuk dokter
2.      Kompres badannya dengan air dingin, es atau alkohol 70%
3.      Banyak minum
4.      Berikan baju atau selimut yang tipis
5.      Pastikan sirkulasi udara dikamar lancar
Jika dengan cara tersebut suhu tubuh anak belum juga turun segera bawa ke dokter.

6.       Diare
Diare merupakan bentuk penolakan tubuh terhadap kuman.
Penyebab :
1)      Kebiasaan anak-anak yang suka jajan sembarangan (makanan atau minuman yang kotor)
2)      Virus, bakteri, amoeba, dan cacing
Gejala awal :
1)      Buang air besar
2)      Adanya darah dalam tinja
3)      Muntah
4)      Dehidrasi
Cara mengatasi :
1)      Beri cairan sebanyak mungkin kecuali susu
2)      Bila suhu badan tinggi, kompres anak
3)      Setelah diare dan muntah berhenti, ben makanan yang lunak
Pencegahan :
1)      Menciptakan lingkungan sehat dan bersih
2)      Tidak membiasakan anak teralu sering jajan
3)      Makanan bergizi seimbang

7.       Difteri 
Penyebab : kuman corinibacterium diphtheriae
Gejala awal :
1)      Sakit tenggorokan ringan
2)      Sakit saat menelan
3)      Demam
4)      Mual
5)      Muntah
6)      Menggigil
7)      Sakit kepala
8)    Adanya lapisan tipis yang khas didaerah tonsil yang berwarna kelabu kotor, kasar dan melekat erat
Cara mengatasi :
      Pengobatan dilakukan dengan pemberian anti toksin difteri sedini mungkin. Selain itu penderita dirawat tersendiri dirumah sakit (karintina)
Pencegahan :   
     Setiap anak harus mendapatkan imunisasi terhadap terhadap difteri (DPT atau Difteri, Pertutis, dan Tetanus)

8.      Disentri
Penyebab : Bakteri dan golongan shigilla
Gejala awal :
1)      Panas
2)      Pusing
3)      Nafsu makan hilang
4)      Mual
5)      Muntah
6)      Diare
7)      Sakit perut
8)      Kembung
9)      Rasa sakit ketika buang air besar
10)  Dehidrasi
Cara mengatasi :
1)      Memberi laturan oralit
2)      Memberi antibiotik dan obat-obat spesifik lainnya yang ditentukan oleh dkter
3)      Kompres
Pencegahan :
       Biasakan anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sampai betul-betul bersih. Menjaga kebersihan lingkungan.

9.        Kejang
Penyebab :
1)      Tingginya suhu tubuh (demam)
2)      Trauma kepala akibat jatuh atau terpukul
Cara mengatasi :
  • Jangan panik dan lakukan tindakan awal untuk mencengah atau mengurangi akibat buruk dan kejang. 
  • Caranya jangan memasukkan makanan atau minuman pada anak sewaktu anak kejang. Sebab melakukan pertolongan pertama cepat bawa anak ke dokter. Letakkan benda yang lunak tapi kuat diantara gigi anak untuk mencegah lidahnya tergigit dan giginya patah
  • Kendorkan pakaian anak terutama disekitar leherBaringkan anak dalam posisi miring agar lidah tdak menekan ke mulutnya
  • Turunkan suhu tubuhnya dengan kompre air hangat dan obat penurun panas 
  • Jangan sekali-kali menyelimuti anak
Pencegahan :
       Sediakan obat-obatan penurun panas dan anti kejang sesuai petunjuk dokter. Jangan biarkan suhu badan anak terlalu tinggi
B.     Imunisasi
      Imunisasi merupakan cara terbaik untuk melakukan pencegahan penyakit. Telah terbukti bahwa imunisasi berhasil menekan angka penularan berbagai penyakit yang dulunya sangat ditakuti dan menelan banyak korban setiap tahunnya.
Dengan imunisasi, vaksin yang dimasukkan memberikan ransangan kepada tubuh untuk membentuk antibodi yang bertugas melawan atau menetralisir bakteri/virus tersebut. Oleh karena itu, bagi anak-anak yang pernah terkena campak misalnya, sudah tidak perlu diberi vaksin campak, karena didalam tubuhnya sudah terbentuk antibodi untuk mlawan campak.

Akibat sampingan
      Akibat sampingan yang serius umumnya tidak ada, kecuali hanya demam setelah menerima imunisasi, ini karena efek dari tubuh yang membentuk antibodi untuk melawan bakteri/virus yang masuk.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum imunisasi : Apabila mengalami panas tinggi, tunggu setelah panas badannnya normal kembali.
Anak yang memiliki alergi terhadap telur harus menjalani tes kulit sebelum imunisasi MMR, karena sebagian vaksin ini dibiarkan diset embrio ayam.
Anak yang memiliki sistem kekebalan yang rendah (akibat AIDS, transplantasi,dll) tidak disaankan menerima vaksinasi POLIO melalui mulut tetapi yang suntikan (IPV), karena vaksin POLIO suntik dibiakkan dari yang sudah mati.

     Vaksin baru
            Pada umumnya setelah imunisasi, anak mengalami demam, panas tinggi, pusing dsb yang bisa muncul sesaat atau beberapa hari setelah imunisasi. Untuk itu selalu tanyakan kedokter anak anda apa yang harus dipersiapkan. Umumnya menyediakan obat penurun panas acetaminophen (Tylenol, Panadol, Tempra,dll) sudah lebih dan cukup.
           

Tipe vaksin
            Ada beberapa tipe vaksin berdasarkan sumbernya, yaitu : virus yang dilemahkan : vaksin polio OPV dan MMR. Virus atau bakteri yang sudah mati (non aktif) : komponen pertusis dalam vaksin DPT. Racun dan bakteri : vaksin difteri dan tetanus. Biosintetik (buatan) : Vaksin Hib.

a.      Jadwal imunisasi dan jenis-jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
Jadwal dan jenis imunisasi yang diberikan berbeda setiap negara, termasuk juga mana yang diwajibkan atau tidak. Ada beberapa jenis vaksin imunisasi yang dapat diberikan (BKKBN, 1992) diantaranya yaitu :
1)      Hepatitis B :

Hepatitis B (HPT) yaitu virus yang menginfeksi lever. Bila terkena virus ini akan menjadi pembawa virus yang bisa menularkannya, selain mengalami gangguan berkepanjangan semacam penyakit lever, kanker lever, dll. Vaksin ini diberikan dengan suntikan. Jadwal pemberian Vaksin Hepatitis B yaitu diberikan dalam satu seri yang terdiri dari 3 kali suntik. Setelah pemberian vaksinasi panas anak mungkin akan naik,dan juga daerah sekitar bekas suntikan menjadi merah. Untuk itu anda bisa memakai obat penurun panas (Tempra,dll), dan kompres dengan air hangat pada bekas suntikan.
2)      DPT :
Vaksin ini akan melindungi tubuh terhadap difteri, tetanus, dan pertusis. OPT (DPT) dan DTP adalah vaksin yang sama, namun bentuknya saja yang berbeda. Jadwal pemberian : diberikan sebagai satu seri terdiri dari 5 kali suntik, yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 s/d 18 bulan dan terakhir pada saat sebelum masuk sekolah (4 s/d 6 tahun). Dianjurkan untuk mendapatkan vaksin Td (penguat terhadap difteri dan tetanus) pada usia 11 s/d 12 tahun  atau paling lambat 5 tahun setelah imunisasi DPT terakhir, Setelah itu direkomendasikan untuk mendapatkan Td setiap 10 tahun.

Resiko yang mungkin timbul :
           
Seringkali pemberian vaksin ini menimbulkan panas badan ringan atau panas disekitar bekas suntikan yang diakibatkan oleh komponen portusis dalam vaksin.

3)      Hib

Vaksin ini ditujukan untuk mencegah meringitis yang pada sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe b. Vaksin ini diberikan dengan suntikan.
Dengan mendapatkan vaksin ini secara lengkap, terbukti bahwa 90% balita memiliki kekebalan terhadap bakteri haemophilus influenza tipe b. Selam meringis, vaksin ini akan meningkatkan kekebalan terhadap pneumonia, penicanditis dan infeksi darah dan tulang yang disebabkan oleh bakteri.
Jadwal pemberian :
Diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan dan sekitar 6 bulan. Setelah itu diberikan sebagai penguat pada usia 12 s/d 15 bulan.
Resiko yang mungkin timbul :
Sangat sedikit sekali efek sampingan yang pernah ditemukan, kecuali kemerah-merahan dan nyeri pada bagian bekas suntikan atau panas badan ringan.

4)      POLIO

Infeksi Polio potensial menyebabkan gangguan permanen pada anak. Dengan vaksin ini 90% anak memiliki kekebalan terhadap polio. Vaksin ini diberikan dengan suntikan (IPV) dan melalui mulut (OPV).

Jadwal pemberian :
Diberikan pada usia 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, 12 s/d 18 bulan dan saat sebelum masuk sekolah (4 s/d 6 tahun). Imunisasi pertama dan kedua adalah IPV sedangkan 2 tahun terakhir dengan OPV.

Resiko yang mungkin timbul :
Bagi anda yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio pada saat balita dianjurkan untuk imunisasi dengan IPV sebelum anak anda mendapatkan vaksin polio secara OPV.

5)      MMR/Campak

Vaksin MMR memberikan kekebalan terhadap measles (campak), numps dan rubella.
Jadwal pemberian :
Diberikan sebagai satu sen yang terdiri dari dua pembenaan yaitu pada usia 12 s/d 15 bulan dan saat sebelum masuk sekolah (4 s/d 6 tahun) atau pada usia 11 s/d 12 tahun
Resiko yang timbul :
Jarang sekali timbul masalah serius akibat vaksin ini.

6)      Cacar

Vaksin ini memberi kekebalan terhadap penyakit cacar (Vancella I chicken pox) yang sering menyerang anak-anak, penerima vaksin ini memiliki kekebalan 70-90% terhadap virus cacar. Bila terjangkit sekali pun hanya akan mengalami demam ringan.
Jadwal pemberian :
Diberikan satu kali pada usia 12 bulan atau lebih.
Resiko yang mungkin timbul :
Jarang ditemui adanya reaksi berlebihan terhadap vaksin ini. Gejala demam ringan mungkin timbul dalam jangka waktu 1 bulan setelah imunisasi untuk beberapa hari, namun tidak diperlukan penanganan khusus karna akan hilang dengan sendirinya setelah bebeapa hari.

7)      BCG

       Vaksin ini memberikan kekebalan terhadap virus TBC.
Jadwal pemberian : diberikan satu kali pada usia 2 bulan
Resiko yang mungkin timbul : jarang ditemui adanya reaksi berlebihan terhadap vaksin ini.
Menunda pemberian : bila anak sakit lebih dan sekedar panas badan ringan.

8)      TIPA

       Dibeberapa negara maju vaksin ini sudah tidak diberikan lagi karena ancaman akan penyakit ini hampi tidak ada.
Jadwal pemberian : diberikan satu suntikan yang terdiri dari 3 kali pembenaan, yaitu pada usia 21 bulan, 2 tahun, dan 5 tahun.
Resiko yang mungkin timbul : jarang ditemui adanya reaksi berlebihan terhadap vaksin ini.

9)      RV-TV

       Vaksin ini memberikan kekebalan terhadap rotavirus. Ini merupakan vaksin baru yang dimulai pemakaiannya pada Agustus 1998 di Amerika. Vaksin ini diberikan melalui mulut.
Jadwal pemberian : diberikan sebagai satu sen yang terdiri dari 3 kali pemberian, yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan.

10)  ASMA

Khusus untuk anak-anak yang mengidap asma, disarankan untuk mendapatkan vaksin influenza dan pneumonia. Ini akan memberikan perlindungan terhadap virus influenza dan pneumonia.

11)  RABIES

Untuk anak-anak yang digigit binatang yang tidak jelas atau liar, ada baiknya bila digigit binatang ini segera mendapatkan vaksin rabies.

b.      Waktu Imunisasi

       Sebelum membawa anak untuk mendapatkan imunisasi, terutama yang diberikan dengan suntik, ada baiknya anda memperhatikan hal-hal berikut ( jika anak sudah agak besar, diberi pengertian akan manfaat mendapatkan imunisasi) :
1)      Katakan bahwa tidak masalah apabila dia menangis, namun juga doronglah dia untuk memupuk keberanian.
2)      Bersikaplah tenang, karena anak akan selalu melihat dan dipengaruhi oleh perubahan sikap anda
3)      Alihkan perhatian anak ke hal-hal yang menyenangkan, terutama pada saat menunggu

C.     Melatih kebersihan dan kesehatan anak

1.      Mulai dari diri sendiri (memberi contoh pada anak)

       Menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat pada anak-anak usia pra sekolah sebaiknya dimulai dengan mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan dirinya sendiri terlebih dahulu.
a)      Mencuci tangan dan kaki
b)      Menggosok gigi
c)      Kebersihan dalam buang air besar dan kecil
d)      Kebersihan telinga, mata, hidung dan mulut
e)      Kebersihan kuku
f)       Mandi dua kali sehari

2.      Berlanjut ke lingkungan sekitar

      Selain kebersihan dini,anak juga perlu tahu bahwa hidup bersih juga berlaku pada lingkungannya. Misalnya membuang sampah pada tempatnya.

3.      Disiplin merupakan kunci utamanya

     Menerapkan disiplin memang agak sulit, selain membutuhkan kemauan anak untuk melakukannya, juga menuntut pengendalian diri sebab ada aturan-aturan yang dibutuhkan dalam proses penanaman hidup bersih pada anak.

4.      Menjaga kebugaran tubuh

       Kebugaran pada anak yang berarti ketahanan kardiorespiratori (kekuatan kesehatan jantung dan paru-paru) hanya dapat diperoleh melalui latihan kebugaran (olah raga) yang teratur dan terencana.

5.      Makanan harus bergizi dan seimbang

       Makanan yang sehat ialah makanan yang mengandung nilai gizi yang paling cukup, artinya makanan yang disajikan harus mencakup tiga kelompok utama, yakni kelompok bahan makanan sumber zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.